Aceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur pada masanya. Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh di zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau. Kekuasaan Aceh pula meliputi hingga Perak.
Seri Sultan Iskandar Muda kemudian menikah dengan seorang Puteri dari Kesultanan Pahang. Puteri ini dikenal dengan nama Putroe Phang. Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan Isterinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Istana) sebagai muzeum cintanya. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampong halamannya yang berbukit-bukit. Oleh kerananya Sultan membangun Gunongan untuk mengubati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.
1. Asal Usul
Hikayat Aceh menguraikan dengan panjang lebar sejarah bermitos sebelum Iskandar. Pada mulanya katanya ada seorang pengeran dari Lamri yang bernama Munawar Syah, keturunan Iskandar Zulkarnain. Dari seorang putri “berdarah putih”, perikhayangan, keturunan Maha Bisu, Munawar Syah mendapat dua putra: Syah Muhammad dan Syah Mahmud. Mereka pun memperistri putri kahyangan. Dari pihak leluhur, Iskandar keturunan keluarga Raja Dar ul-Kamal, dan dari pihak leluhur ayah keturunan keluarga Raja Makota Alam. Kita masih ingat bahwa Dar ul-Kamal dan makota Alam dikatakan dahulu merupakan dua tempat pemukiman bertetangga (yang terpisah oleh sungat) dan yang gabungannya merupakan asal mula Aceh Dar us-Salam. Iskandar Muda seorang diri mewakili kedua cabang itu, maka berhak sepenuhnya menuntut takhta.
2. Nama “Iskandar Muda”
Di sini timbul suatu persoalan yang rumit. Apakah nama Iskandar Muda yang selalu diberikan kepadanya oleh tradisi dan oleh sejarah sudah dipakai sewaktu sultan masih hidup ?. Dinyatakan bahwa tak ada satu pun teks sebelum wafatnya sultan, baik yang berasal dari Aceh maupun dari Eropa, yang menyebut nama itu. Oleh Hikayat Aceh pengeran muda itu hanya disebut dengan nama-nama Pancagah, Johan Alam, dan Perkasa Alam, sedangkan nama Iskandar tidak terdapt di dalamnya. Hal ini sebenarnya tak membuktikan apa-apa karena teks itu berhenti jauh sebelum raja itu naik tahkta.
Ada alasan-alasan lain yang dikemukakan dalam sepucuk surat kepada James I dari Inggris, yang tertanggal 1024 H (1613 M) pengeran itu menamakan dirinya “Sri Sultan Perkasa Alam Juhan berdaulat yang bergelar Makuta Alam” dan gelar Makuta Alam itu rupanya hanya terdapat dalam kata persembahan sebuah karya Syams ud-Din dari Pasai. Cukupkah hal itu menyatakan bahwa “Iskandar Muda” hanyalah gelar anumerta? Ada tanda-tandanya yang dapat menimbulkan pendapat yang berlawanan.
Kronik yang diterjemahkan Dulaurier mengatakan dengan jelas bahwa sang pangeran diberi nama Iskandar Muda pada hari penobatannya : “Maka kerajaan Maharaja Darma (di) Wangsa Tun Pangkat bergelar Iskandar Muda pada hari itu jua”.
Pada folio 49a dalam Adat Aceh dikatakan bahwa pada tahun 1015 H atau 1606/7 M (tepat pada tahun penobatannya) Paduka Sri Sultan Iskandar Muda Johan berdaulat itu memerintahkan diadakannya kompilasi tarakata atau perintah-perintah raja, dan pada folio 113b teks yang sama, dikatakan bahwa pada tahun 1045 H atau 1635/6 M (tahun pemerintahannya yang terakhir), Paduka Sri Sultan Iskandar Muda Johan berdaulat mengeluarkan apa yang kami namakan perintah monopoli. Perlu ditambahkan bahwa Djajadiningrat menyebut adanya sebuah mas dari Aceh dengan tulisan Iskandar Muda, “anak Mansur”.
3. Pemilihan Pengganti
Iskandar Muda mempunyai seorang putra, Sultan Muuda, yang tak banyak keterangannya dalam sumber-sumber (kecuali bahwa ia agaknya hadir dalam arak-arakan tanggal 10 Zulhijjah). Waktu Beaulieu[1] singgah di Aceh, pangeran muda itu sudah tidak disukai lagi karena dituduh melakukan komplotan yang secara terperinci tidak diketahui sumbernya.
Mengenai hal ini Bustan us-Salatin tak berkata apa-apa; yang diceritakannya hanyalah bagaimana orang yang kemudian dikenal sebagai Iskandar Thani itu (lahir sekitar 1612) pada umur tujuh tahun dibawa dari istana Pahang yang baru saja ditaklukkan oleh Iskandar Muda. Menurut teks itu selanjutnya, karena wajahnya yang menarik ia disenangi sultan agung itu yang menamakannya Raja Bungsu; lalu waktu umurnya sembilan tahun, ia dikawinkan dengan putri Iskandar Muda (Putri Sri Alam Permaisuri) dan dinamakan Sultan Husain. Ketika Iskandar Muda merasa sudah tiba ajalnya, kata Bustan selanjutnya, dipanggilnya semua pemukanya dan ditunjukkannya menantunya sebagai penggantinya.
Iskandar Muda wafat pada tanggal 29 Rajab 1046 H (27 Desember 1636 M). sebagaimana sering terjadi apabila seorang tokoh besar wafat, maka dalam sepucuk surat yang ditulis Antonio Van Diemen pada tanggal 9 Desember 1637 dapat kita baca “bahwa tidak mustahil ia diracun atas desakan orang Portugis oleh para perempuan yang dikirim Raja Makasar ke Aceh sebagai tanda penghormatan”.
4. Kebesaran Sultan Iskadar Muda
Pada masa Iskandar muda, Kerajaan Aceh mengirim utusannya untuk menghadap sultan Empayar Turki Uthmaniyyah yang berkedudukan di Konstantinompel. Kerana saat itu, sultan Turki Uthmaniyyah sedang gering maka utusan kerajaan Aceh terluntang-lantung demikian lamanya sehingga mereka harus menjual sedikit demi sedikit hadiah persembahan untuk kelangsungan hidup mereka. Lalu pada akhirnya ketika mereka diterima oleh sang Sultan, persembahan mereka hanya tinggal Lada Sicupak atau Lada sekarung. Namun sang Sultan menyambut baik hadiah itu dan mengirimkan sebuah meriam dan beberapa orang yang cakap dalam ilmu perang untuk membantu kerajaan Aceh. Meriam tersbut pula masih ada hingga kini dikenal dengan nama Meriam Lada Sicupak. Pada masa selanjutnya sultan Turki Uthmaniyyah mengirimkan sebuha bintang jasa kepada Sultan Aceh.
Pada masa perang dengan Belanda, Kesultanan Aceh sempat meminta bantuan kepada perwakilan Amerika Serikta di Singapura yang disinggahi Panglima Tibang Muhammad dalam perjalanannya menuju Pelantikan Kaisar Napoleon III di Perancis. Aceh juga mengirim Habib Abdurrahman untuk meminta bantuan kepada Empayar Turki Uthmaniyyah. Namun Empayar Turki Uthmaniyyah kala itu sudah mengalami masa kemunduran. Sedangkan Amerika menolak campur tangan dalam urusan Aceh dan Belanda.
Selain Kerajaan Inggeris, Pangeran Maurits -pendiri dinasti Oranje- juga pernah mengirim surat dengan maksud meminta bantuan Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan menyambut maksud baik mereka dengan mengirimkan rombongan utusannya ke Belanda. Rombongan tersebut dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid. Rombongan inilah yang dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang singgah di Belanda. Dalam kunjungannya Tuanku Abdul Hamid sakit dan akhirnya meninggal dunia. Beliau dimakamkan secara besar-besaran di Belanda dengan dihadiri ileh para pembesar-pembesar Belanda. Namun karena orang Belanda belum pernah memakamkan orang Islam, maka beliau dimakamkan dengan cara agama nasrani di pekarangan sebuah Gereja. Kini di makam beliau terdapat sebuah prasasti yang dirasmikan oleh Mendinag Yang Mulia Pangeran Bernard suami menidiang Ratu Juliana dan Ayahanda Yang Maha Mulia Ratu Beatrix.
Kerajaan Aceh pula menerima kunjungan utusan Diraja Perancis. Utusan Raja Perancis tersebut semula bermaksud menghadiahkan sebuah cermin yang amat berharga bagi Sultan Aceh. Namun dalam perjalanan cermin tersebut pecah. Akhirnya mereka mempersembahkan seripah cermin tersbut sebagai hadiah bagi sang Sultan. Dalam bukunya Danis Lombard mengatakan bahwa Sultan Iskanda Muda amat menggemari benda-benda berharga. Pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan melayu yang memiliki Bale Ceureumin atau Hall of Mirror di dalam Istananya.
Ketika Iskandar Muda mulai berkuasa pada tahun 1607, ia segera melakukan ekspedisi angkatan laut yang menyebabkan ia mendapatkan kontrol yang efektif di daerah barat laut Indonesia. Kendali kerajaan terlaksana dengan lancar di semua pelabuhan penting di pantai barat Sumatra dan di pantai timur, sampai ke Asahan di selatan. Pelayaran penaklukannya dilancarkan sampai jauh ke Penang, di pantai timur Semenanjung Melayu, dan pedagang asing dipaksa untuk tunduk kepadanya. Kerajaannya kaya raya, dan menjadi pusat ilmu pengetahuan.
[1] Orang Eropa satu-satunya yang berhasil benar-benar masuk ke tengah-tengah orang yang dekat pada raja pada waktu itu.
Posted on January 24, 2011
0